BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia merupakan
ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna. Di antara makhluk lainnya
manusialah yang memiliki bentuk dan struktur yang paling sempurna. Maka dari
itu sebagai manusia wajib bersyukur dan menggunakan pemberian itu dengan
sebaik-baiknya dengan cara merawat serta mengembangkan potensial kita
semaksimal mungkin, namun pada kenyataannya masih banyak manusia yang memiliki
keterbatasan dalam hal fisik maupun mental, salah satunya penyandang tunadaksa
yang ada disekitar kita.
Tunadaksa (cacat tubuh) adalah salah
satu bentuk keterbatasan manusia yang
terjadi pada fisiknya, seperti pada sistem otot, tulang dan persendian
akibat dari adanya penyakit dari kecelakaan, bawaan sejak lahir atau kerusakan
di otak. Karena itu masalah tersebut perlu memperoleh penanganan sesuai dengan
kebutuhan. Pada dasarnya penyandang tunadaksa dapat diklasifikasikan menjadi 3
yaitu, kebutuhan untuk memperoleh pelayanan medis guna mengurangi permasalahan yang
dialami anak di bidang medis. Kebutuhan untuk memperoleh pelayanan rehabilitasi
guna mengurangi gangguan fungsi sebagai dampak dari adanya kecacatan tunadaksa
dan kebutuhan untuk memperoleh pendidikan khusus.
1.2. Rumusan
Masalah
Dari paparan di atas, dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:
1)
Apa
perbedaan yang mencolok antara tunadaksa
fisik dan cerebral palsy?
2)
Bagaimana
pengklasifikasian antara tunadaksa fisik dan cerebral palsy?
3)
Apa
penyebab terjadinya ketunadaksaan?
4)
Bagaimana
karakteristik antara tunadaksa fisik dan cerebral palsy?
1.3. Tujuan
penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
1)
Untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Psikologi Anak Berkebutuhan
Khusus.
2)
Untuk
mengetahui perbedaan antara tunadaksa fisik dan cerebral palsy
3)
Untuk
mengetahui pengklasifikasian antara tunadaksa fisik dan cerebral palsy
4)
Untuk
mengetahui perbedaan karakteristik antara tunadaksa fisik dengan cerebral
palsy.
1.4. Manfaat
Penulisan
Adapun manfaat
dari penulisan makalah ini sebagai berikut:
1)
Bagi Mahasiswa khususnya Pendidikan Luar Biasa, dapat dijadikan
bekal dasar pengetahuan dalam memahami aspek psikologis mengenai
ketunadaksaan.
2)
Bagi pembaca, memiliki wawasan pengetahuan, khususnya pada ketunadaksaan.
BAB
II
HASIL
OBSERVASI
2.1 IDENTITAS
1.
Pengertian Tunadaksa
Tunadaksa menurut situs resmi
Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, berasal dari dua kata yakni kata
“Tuna” yang berarti rugi, kurang dan “daksa” berarti tubuh. Menurut White House Conference tahun 1931, Tunadaksa
merupakan suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentuk
atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal. Kondisi
ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, atau dapat juga disebabkan oleh
pembawaan sejak lahir.
Dari berbagai
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa anak tunadaksa adalah seseorang yang
mengalami kerusakan atau kelainan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya
secara normal sehingga mengakibatkan gangguan pada
Ø Pengklasifikasian Tunadaksa
Menurut Frances G. Koening,
tunadaksa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a.
Kerusakan yang dibawa sejak lahir atau kerusakan yang merupakan keturunan,
meliputi:
·
Club-foot (kaki seperti tongkat).
·
Club-hand (tangan seperti
tongkat).
·
Polydactylism (jari yang lebih dari
lima pada masing-masing tangan atau kaki).
·
Syndactylism (jari-jari yang
berselaput atau menempel satu dengan yang lainnya).
·
Torticolis (gangguan pada leher
sehingga kepala terkulai ke muka).
·
Spina-bifida (sebagian dari sumsum
tulang belakang tidak tertutup).
·
Cretinism (kerdil/katai).
·
Mycrocephalus (kepala yang kecil,
tidak normal).
·
Hydrocepalus (kepala yang besar
karena berisi cairan).
·
Clefpalats (langit-langit mulut
yang berlubang).
·
Herelip (gangguan padabibir dan
mulut).
·
Congenital hip
dislocation (kelumpuhan pada bagian
paha).
· Congenital amputation (bayi yang dilahirkan
tanpa anggota tubuh tertentu).
·
Fredresich ataxia (gangguan pada sumsum
tulang belakang).
·
Coxa valga (gangguan pada sendi
paha, terlalu besar).
·
Syphilis (kerusakan tulang dan
sendi akibat penyakit syphilis).
b.
Kerusakan pada waktu kelahiran:
·
Erb’s palsy (kerusakan pada syaraf
lengan akibat tertekan atau tertarik waktu kelahiran).
·
Fragilitas osium (tulang yang rapuh dan
mudah patah).
c.
Infeksi:
·
Tuberkulosis tulang (menyerang sendi paha sehingga menjadi kaku).
·
Osteomyelitis (radang di dalam dan di
sekeliling sumsum tulang karena bakteri).
·
Poliomyelitis (infeksi virus yang
mungkin menyebabkan kelumpuhan).
·
Pott’s disease (tuberkulosis sumsum
tulang belakang).
· Still’s disease (radang pada tulang
yang menyebabkan kerusakan permanen pada tulang).
·
Tuberkulosis pada lutut atau pada sendi lain.
d.
Kondisi traumatik atau kerusakan traumatik:
·
Amputasi (anggota tubuh dibuangakibat kecelakaan).
·
Kecelakaan akibat luka bakar.
·
Patah tulang.
e.
Tumor:
·
Oxostosis (tumor tulang).
·
Osteosisfibrosa cystica (kista atau kentang
yang berisi cairan di dalam tulang).
3. Pengertian Cerebral Palsy
Cerebral palsy menurut asal katanya, yaitu cerebral atau cerebrum yang
berarti otak, sedangkan palsy berarti kekakuan. Menurut arti kata, cerebral
palsy berarti kekakuan yang disebabkan oleh adanya kerusakan yang terletak di
dalam otak.
Dengan demikian cerebral palsy
adalah bagian dari tunadaksa, dimana adanya kelainan gerak, sikap, ataupun
bentuk tubuh, gangguan koordinasi, dan terkadang disertai gangguan psikologis
dan sensoris, yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada masa perkembangan
otak.
Ø Klasifikasi Cerebral
Palsy
a. Menurut Tipografi cerebral palsy
dapat dibedakan sebagai berikut:
·
Monoplegia, yaitu hanya
satu anggota gerak yang lumpuh, misalnya kaki kiri, kaki kanan dan kedua tangan
normal.
·
Hemiplegia, yaitu lumpuh
pada anggota gerak atas atau gerak bawah pada sisi yang sama, misalnya tangan
kanan dengan kaki kanan, dan tangan kiri dengan kaki kiri.
·
Paraplegia, apabila kelainan
menyerang kedua tungkai atau kakinya.
·
Diplegia, yaitu lumpuh
kedua tangan kanan dan kiri.
·
Quadriplegia, yaitu lumpuh pada seluruh anggota geraknya.
b. Menurut
Fisiologi cerebral palsy dapat dibedakan
sebagai berikut
·
Spasticity, yaitu kerusakan pada cortex cerebri yang menyebabkan hiperactive reflex dan stretch
reflex. Spasticity dapat dibedakan menjadi:
·
Athetosis, yaitu kerusakan pada
basal banglia yang mengakibatkan gerakan-gerakan menjadi tidak terkendali dan
tidak terarah.
· Ataxia, yaitu kerusakan pada
cerebellum yang mengakibatkan adanya gangguan pada keseimbangan.
· Tremor, yaitu kerusakan pada
basal ganglia yang berakibat timbulnya getaran-getaran berirama, baik yang
bertujuan maupun yang tidak bertujuan.
· Rigidity, yaitu kerusakan pada
basal ganglia yang mengakibatkan kekakuan pada otot-otot.
c. Kesulitan aktifitas motorik terbagi menjadi 3 bagian:
1. Hiperaktif, yakni keadaan anak yang mudah tertarik pada setiap rangsangan
yang diterima dan kemudian perhatiannya sanagt mudah beralih dari satu objek ke
objek yang lain.
2. Hipoaktif, yakni keadaan anak yang memiliki gerakan lamban dan sangat
kurang, tidak dapat serta merta dalam menanggapi rangsangan yang diterima.
3. Gangguan koordinasi motorik, yakni terjadinya kesulitan sensoris, berupa
gangguan persepsi, emosi, bahasa dan bicara.
3. Penyebab terjadinya ketunadaksaan
a. Masa sebelum lahir (Pranatal)
Dapat disebabkan karena faktor
keturunan, trauma saat ibu hamil, pendarahan saat kehamilan, penggunaan
obat-obatan secara berlebihan, ibu berusia lanjut saat hamil.
b. Masa kelahiran (Natal)
Dapat disebabkan karena
penggunaan alat-alat pembantu saat proses kelahiran (seperti vacum, alat suntik
dll) yang kurang efektif serta penggunaan obat bius pada masa kelahiran serta
lahir dalam keadaan prematur.
c. Masa sesudah kelahiran
Dapat disebabkan karena
infeksi, penyakit, tumor, radang otak, keracunan karbon monoksida dan kecelakaan.
B. Hasil Observasi di SLB YPAC Makassar
a. Perbandingan antara anak tunadaksa fisik dan
cerebral palsy
1.
Tunadaksa fisik
Nama : Sabir
Tempat tanggal lahir : Makassar,
23 Juni 2002
Kelas :
I SMP YPAC Makassar
Sabir mengalami kecelakaan akibat bermain
mesin penggilingan sehingga tangan kanannya terputus sampai bahu pada saat
masih duduk di bangku kelas 5 SD. Sabir tamat SD sebelum masuk ke YPAC
Makassar.
Berikut kekurangan dan Kelebihan
·
Dapat menulis dan membaca dengan lancar
·
Kemampuan beradaptasi dan sosialisasi
cukup baik
·
Pemalu dan suka menyendiri
·
Kurang Percaya diri
2. Cerebral Palsy Ringan
Nama :
Muhammad Rasul Mayhesa Adipati
Tempat tanggal lahir : Makassar, 10 Mei 2000
Kelas :
III SMP YPAC Makassar
Alamat :
Jl. Datuk Ribanding III No. 2
Nama Orang Tua : Surianto/Hemilawati
Muhammad
Rasul Mayhesa Adipati atau sering dipanggil Rasul adalah siswa dengan tingkat
cerebral palsy ringan, sehingga ia masih dapat bergerak secara mandiri dan
menolong dirinya sendiri.
Berikut kekurangan dan
kelebihannya:
·
Dapat berkomunikasi dengan baik
·
Dapat menulis dan membaca
·
Sering berbicara tanpa dimengerti maksud
dan tujuannya
·
Terkadang melamun sendiri.
3.
Cerebral palsy sedang
Nama :
Adam
Tempat tanggal lahir : Makassar, 27 Maret 2002
Kelas :
VI SDLB YPAC Makassar
Adam adalah siswa cerebral palsy sedang yang mengalami kekakuan pada
lengan sebelah kiri, setelah mengikuti treatmen fisioterapi, keadaannya
berangsur-angsur membaik, kemampuan berbicara sudah membaik, kekauannya sudah
dapat dikurangi. Adam baru bisa berjalan setelah usia 3 tahun.
Berikut kekurangan dan kelebihan
·
Sudah bisa menulis, membaca huruf
perhuruf dan kata perkata.
·
Berkomunikasi secara sederhana dengan
orang lain
·
Dapat berhitung sederhana penjumlahan
dan pengurangan
·
Tidak dapat fokus kepada satu tujuan
·
Lebih suka bermain sendiri.
b. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada
guru SLB YPAC Makassar
·
Pertanyaan untuk Ibu Hj. Nurmiah S.Pd.
selaku wali kelas VI SDLB YPAC Makassar
1.
Bagaimana
aspek intelegensi pada peserta didik?
Jawaban
:
Pada aspek intelegensi anak tunadaksa khususnya yang CP memang berbeda
dengan anak-anak tunadaksa pada umumnya,
tetapi anak-anak CP disini yah, termasuk Adam itu sudah bisa menulis huruf dan
angka walaupun cukup lamban. Adam sudah bisa membaca dengan cara mengeja
perkata saja, tidak bisa langsung membaca cepat. Adam juga bisa mengerjakan
perhitungan sederhana pengurangan dan penambaha sampai angka ratusan saja.
2.
Apakah
tidak ada halangan pada anak saat akan memulai kegiatan belajar?
Jawaban:
Lumayan sulit untuk memulai pelajaran karena anak-anak sering
bermain-main dan tidak fokus pada satu tujuan, sehingga diperlukan
rangsangan-rangsangan untuk dapat memfokuskan fikiran anak terhadap pelajaran.
3.
Bagaimana
sikap sosial (tingkah laku) anak terhadap orang-orang di lingkungan sekolah dan
terhadap teman-teman sebayanya?
Jawaban:
Dalam hal ini, Adam dia sudah
dapat bersosialisasi dengan baik pada semua orang termasuk yang baru
dikenalnya, karena dulu dia sangat takut berbicara dan melihat orang, ketika
dia melihat orang yang mau bicara dengannya, dia akan lari dan bersembunyi.
Alhamdulillah sekarang setelah menjalani fisioterapi keadaannya sudah membaik,
sudah tidak takut lagi bergaul dengan orang yang baru dikenalnya serta kepada
teman-teman dan gurunya.
4.
Apakah
anda sering mendapati siswa anda yang memiliki sensitifitas cukup tinggi, dari
segi emosional?
Jawaban:
Ya, karena Adam sendiri memiliki emosional yang cukup sensitif, seperti
ketika ada teman yang mengganggunya maka dia akan melakukan perlawanan yang
keras terkadang tidak terkendali, sehingga saya harus melerainya untuk
membubarkan perkelahian yang terjadi.
5.
Bagaimana
reaksi siswa anda ketika diajak berkomunikasi?
Jawaban:
Alhamdulillah sekarang
Adam sudah bisa mengerti dan berbicara walaupun cukup lamban. Tetapi sudah
memiliki peningkatan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
6.
Dalam
pengembangan kepribadian peserta didik, apakah ada aspek-aspek yang dinilai
untuk kepribadian peserta didik? Seperti apa?
Jawaban:
Untuk Adam sendiri, dia
sudah tahu cara bersopan santun, berkata yang baik dan mengerti nasihat,
walaupun ia memahaminya secara sederhana tidak benar-benar dilaksanakan
seutuhnya. Tetapi secara umum Adam memiliki kepribadian yang cukup baik.
2.2 Karakteristik Tunadaksa fisik dan Cerebral
Palsy
1.
Perkembangan
Tunadaksa
a.
Perkembangan
Fisik Anak Tunadaksa
Aspek fisik merupakan potensi yang
berkembang dan harus dikembangkan oleh individu. Pada anak tunadaksa, potensi
itu tidak utuh karena ada bagian tubuh yang tidak sempurna. Secara umum
perkembangan fisik anak tunadaksa dapat dikatakan hampir sama dengan anak
normal kecuali bagian-bagian tubuh yang mengalami kerusakan atau bagian-bagian
tubuh lain yang terpengaruh oleh kerusakan tersebut.
b.
Perkembangan Kognitif Anak Tunadaksa
Implikasi dalam konteks perkembangan kognitif menurut
Gunarsa dalam Efendi (2006:124) ada empat aspek yang turut mewarnai,
yaitu:
a) Kematangan,
kematangan merupakan perkembangan susunan saraf misalnya mendengar yang diakibatkan kematangan
susunan sarat tersebut.
b) Pengalaman,
yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungan dan dunianya.
c) Transmisi
sosial, yaitu pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial.
d) Ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan
yang mengatur dalam diri anak.
Tunadaksa di
bagi menjadi dua yaitu tunadaksa ortopedi dan tunadaksa saraf, meski keduanya
termasuk dalam tunadaksa yang memiliki gejala kesulitan yang sama, namun jika
ditelaah lebih lanjut terdapat perbedaan yang mendasar. Dari segi kognitif
misalnya, wujud konkretnya dapat dilihat dari angka indeks kecerdasan (IQ).
Kondisi ketunadaksaan pada anak sebagian besar menimbulkan kesulitan belajar
dan perkembangan kognitif. Khususnya anak cerebral palsy, selain
mengalami kesulitan dalam belajar dan perkembangan fungsi kognitifnya, mereka
pun seringkali mengalami kesulitan dalam komunikasi, presepsi, maupun kontrol
geraknya, bahkan beberapa penelitian sebagian besar diketahui terbelakang
mental (tunagrahita).
2.
Berikut
perbedaan karakteristik antara anak Tunadaksa fisik dan Cerebral Palsy:
|
No
|
Aspek
yang dinilai
|
Tunadaksa
|
Cerebral
Palsy
|
|
1
|
Intelegensi
|
Anak tunadaksa
fisik maupun syaraf memiliki intelegensi baik potensial dan fungsional yang
kurang lebih sama dengan anak normal.
Contoh:
· Anak
polio mempunyai rata-rata intelegensi yang tinggi yaitu IQ 92.
· Anak
yang TBC tulang rata-rata IQ 88.
· Anak cacat pada pusat syaraf rata-rata IQ
74.
S
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa aspek intelegensi anak tunadaksa umumnya sama dengan
anak normal.
|
Tingkat intelegensi (kecerdasan) anak cerebral palsy
berentang, kelainan
yang mereka derita secara langsung menimbulkan kesulitan belajar dan
perkembangan intelegensi. Mereka lebih banyak mengalami kesulitan daripada
anak tunadaksa pada umumnya.
Mereka banyak mengalami kesulitan baik
dalam komunikasi, persepsi, maupun kontrol gerak. Hasil pengukuran
intelegensi anak cerebral palsy tidak menunjukkan kurva normal, semakin
tinggi IQ semakin sedikit jumlahnya. Berdasarkan penelitan ditemukan bahwa 45%
anak CP mengalami keterbelakangan mental, 35% memiliki kemampuan rata-rata.
Dan 20% memiliki kemampuan dibawah rata-rata.
|
|
2
|
Bahasa
|
Umumnya aspek bahasa pada anak tunadaksa kurang
lebih sama dengan anak normal, yakni dapat berbicara dengan tegas, lancar dan
lugas, namun pada anak tunadaksa jenis polio perkembangan bahasa/bicaranya
tidak begitu sama dengan anak normal.
|
Pada
anak cerebral palsy, aspek bahasa pada anak CP tingkat hampir sama dengan
orang normal, namun secara umum anak CP mengalami gangguan
bicara yang biasanya berupa kesulitan artikulasi, phonasi, dan sistem
respirasi.
Adanya gangguan bicara pada anak cerebral palsy
mengakibatkan mereka mengalami problem psikologis yang disebabkan kesulitan
dalam mengungkapkan pikiran, keinginan, atau kehendaknya.
|
|
3
|
Emosi
|
·
Untuk anak tunadaksa yang telah sejak kecil mengalami perkembangan emosi
sebagai tunadaksa secara bertahap.
Dalam hal ini aspek emosi seorang tunadaksa kurang lebih sama dengan
orang normal pada umumnya, namun biasanya mereka lebih sensitif terhadap
sesuatu yang bersifat menyinggung.
·
Sedangkan
anak yang mengalami ketunadaksaan setelah besar mengalaminya sebagai suatu
hal yang mendadak, disamping anak yang bersangkutan pernah menjalani
kehidupan sebagai orang yang normal sehingga keadaan tunadaksa dianggap
sebagai suatu kemunduran dan sulit untuk diterima oleh anak yang bersangkutan.
Karena awalnya mereka adalah anak normal, sehingga aspek emosinya
adalah emosi anak normal, namun dengan keadaan yang dialami, mereka memiliki
tingkat emosi yang jauh lebih sensitif dibanding dengan tunadaksa sejak
lahir.
|
Aspek emosi anak cerebral palsy juga kurang lebih
sama dengan orang normal, namun terkadang tidak bisa terkontrol dengan baik.
Disebabkan sebagian besar penderita cerebral palsy mengalami keterbelakangan
mental.
Mereka
biasanya menjadi mudah tersinggung, tidak memberikan perhatian yang lama
terhadap sesuatu, merasa terasing dari keluarga dan temannya.
|
|
4
|
Sosial
|
·
Sikap
Sikap anak
tunadaksa terhadap sosial umumnya sama dengan anak-anak normal, seperti dapat
berinteraksi, berkomunikasi, dan pandai bergaul dalam lingkungannya.
·
Perilaku
Anak tunadaksa
tidak dapat melakukan berbagai aktivitas dan mobilitas layaknya orang normal,
disebabkan adanya hambatan fisik yang dialami.
|
Anak cerebral palsy khusus untuk yang ringan masih
dapat melakukan interaksi dengan orang lain.
Namun
secara umum baik dari aspek sikap maupun perilaku anak cerebral palsy tidak
dapat melakukan interaksi sosial dengan baik.
Hal ini
karena sebagian besar penderita cerebral palsy mengalami keterbelakangan
mental, gangguan pada sistem motorik, sistem koordinasi, otot, bicara dan
kekakuan gerak sadar atau tanpa disadari.
|
|
5
|
Bakat
|
Umumnya memliki bakat bawaan yang kurang lebih sama
dengan anak normal umumnya seperti, kemampuan (bakat) dalam seni dan olahraga
serta bakat-bakat yang lain yang dapat dikembangkan dengan baik.
|
Sebagian kecil memiliki bakat bawaan yang dapat
dikembangkan sesuai dengan yang dibutuhkan.
Namun,
sebagian besar lainnya tidak dapat mengoptimalkan bakat yang ada dikarenakan
hambatan atau kelainan yang diderita.
|
|
6
|
Kepribadian
|
Umumnya kepribadian anak tunadaksa sama dengan orang
normal seperti sikap sopan santun,
saling menghargai satu sama lain, jujur, bersimpati dan berempati
dengan sesama makhluk.
Hanya
saja, anak tunadaksa sering merasa dikucilkan, rendah diri dan tidak percaya
diri, karena merasa berbeda dari orang lain.
|
Khusus untuk yang ringan serta sebagian kecil
penderita CP lainnya mereka masih dapat mengembangkan kepribadian yang baik
kurang lebih sama dengan anak normal.
Namun secara
umum kepribadian anak cerebral palsy berbeda dengan anak normal. Karena
mereka memiliki hambatan dalam mengendalikan diri, sistem koordinasi dan
sistem motorik.
|
BAB
III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Dari
pembahasan makalah tersebut diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa
tunadaksa adalah ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya
disebabkan oleh berkurangnya kemampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsi
secara normal akibat luka, penyakit, atau pertumbuhan yang tidak sempurna
sehingga untuk kepentingan pembelajarannya perlu layanan secara khusus.
Sedangkan
cerebral palsy adalah gangguan yang terjadi pada otak besar yang mengakibatkan
terjadinya hambatan berupa gangguan otot, motorik, sistem koordinasi dan
gangguan bicara serta dapat menimbulkan keterbelakangan mental bagi
penderitanya. Dengan demikian diperlukanlah pendidikan khusus untuk mewadahi mengembangkan
potensi-potensi yang ada dan harus dikembangkan dalam kehidupan sebagai
manusia.
3.2 Saran
Perlakuan orang sekitar yang
membedakan terhadap anak tunadaksa menyebabkan anak merasa bahwa dirinya
berbeda dengan orang lain. Hal ini, menimbulkan efek tidak langsung akibat
ketunadaksaan yang dialami seseorang akan terjadi sifat hargadiri rendah,
kurang percaya diri, kurang memiliki inisiatif, atau mematikan kreatifitasnya.
Oleh
karena itu, hendaknya lingkungan masyarakat dapat menerima dan tidak
membeda-bedakan antara orang dengan fisik normal dan anak-anak penderita
tunadaksa, memberikan perhatian khusus berupa pendidikan yang memadai,
pengembangan keterampilan serta perlakuan yang adil tanpa diskriminasi bagi
mereka yang mengalami ketunadaksaan.