Sabtu, 17 September 2016

PSIKOLOGI ABK_PLB SEMESTER I UNM


                                                                             BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang

            Manusia merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna. Di antara makhluk lainnya manusialah yang memiliki bentuk dan struktur yang paling sempurna. Maka dari itu sebagai manusia wajib bersyukur dan menggunakan pemberian itu dengan sebaik-baiknya dengan cara merawat serta mengembangkan potensial kita semaksimal mungkin, namun pada kenyataannya masih banyak manusia yang memiliki keterbatasan dalam hal fisik maupun mental, salah satunya penyandang tunadaksa yang ada disekitar kita.
           Tunadaksa (cacat tubuh) adalah salah satu bentuk keterbatasan manusia yang  terjadi pada fisiknya, seperti pada sistem otot, tulang dan persendian akibat dari adanya penyakit dari kecelakaan, bawaan sejak lahir atau kerusakan di otak. Karena itu masalah tersebut perlu memperoleh penanganan sesuai dengan kebutuhan. Pada dasarnya penyandang tunadaksa dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu, kebutuhan untuk memperoleh pelayanan medis guna mengurangi permasalahan yang dialami anak di bidang medis. Kebutuhan untuk memperoleh pelayanan rehabilitasi guna mengurangi gangguan fungsi sebagai dampak dari adanya kecacatan tunadaksa dan kebutuhan untuk memperoleh pendidikan khusus.

1.2. Rumusan Masalah
            Dari paparan di atas, dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai  berikut:
1)      Apa perbedaan yang  mencolok antara tunadaksa fisik dan  cerebral palsy?
2)      Bagaimana pengklasifikasian antara tunadaksa fisik dan cerebral palsy?
3)      Apa penyebab terjadinya ketunadaksaan?
4)      Bagaimana karakteristik antara tunadaksa fisik dan cerebral palsy?

1.3. Tujuan penulisan
            Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
1)        Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Psikologi Anak  Berkebutuhan  Khusus.
2)        Untuk mengetahui perbedaan antara tunadaksa fisik dan cerebral palsy
3)        Untuk mengetahui pengklasifikasian antara tunadaksa fisik dan cerebral palsy
4)        Untuk mengetahui perbedaan karakteristik antara tunadaksa fisik dengan cerebral palsy.

1.4. Manfaat Penulisan
             Adapun manfaat dari penulisan makalah ini sebagai berikut:
1)   Bagi Mahasiswa khususnya Pendidikan Luar Biasa, dapat dijadikan bekal dasar pengetahuan dalam memahami aspek psikologis mengenai ketunadaksaan.
2)   Bagi pembaca, memiliki wawasan pengetahuan, khususnya pada ketunadaksaan.










BAB II
HASIL OBSERVASI
2.1  IDENTITAS
1.      Pengertian Tunadaksa
                 Tunadaksa menurut situs resmi Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, berasal dari dua kata yakni kata “Tuna” yang berarti rugi, kurang dan “daksa” berarti tubuh.  Menurut White House Conference tahun 1931, Tunadaksa merupakan suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, atau dapat juga disebabkan oleh pembawaan sejak lahir.
               Dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa anak tunadaksa adalah seseorang yang mengalami kerusakan atau kelainan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya secara normal sehingga mengakibatkan gangguan pada

Ø      Pengklasifikasian Tunadaksa
             Menurut Frances G. Koening, tunadaksa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a.       Kerusakan yang dibawa sejak lahir atau kerusakan yang merupakan keturunan, meliputi:
·         Club-foot (kaki seperti tongkat).
·         Club-hand (tangan seperti tongkat).
·         Polydactylism (jari yang lebih dari lima pada masing-masing tangan atau kaki).
·         Syndactylism (jari-jari yang berselaput atau menempel satu dengan yang lainnya).
·         Torticolis (gangguan pada leher sehingga kepala terkulai ke muka).
·         Spina-bifida (sebagian dari sumsum tulang belakang tidak tertutup).
·         Cretinism (kerdil/katai).
·         Mycrocephalus (kepala yang kecil, tidak normal).
·         Hydrocepalus (kepala yang besar karena berisi cairan).
·         Clefpalats (langit-langit mulut yang berlubang).
·         Herelip (gangguan padabibir dan mulut).
·          Congenital hip dislocation (kelumpuhan pada bagian paha).
·        Congenital amputation (bayi yang dilahirkan tanpa anggota tubuh tertentu).
·         Fredresich ataxia (gangguan pada sumsum tulang belakang).
·         Coxa valga (gangguan pada sendi paha, terlalu besar).
·         Syphilis (kerusakan tulang dan sendi akibat penyakit syphilis).

b.      Kerusakan pada waktu kelahiran:
·         Erb’s palsy (kerusakan pada syaraf lengan akibat tertekan atau tertarik waktu kelahiran).
·         Fragilitas osium (tulang yang rapuh dan mudah patah).
c.       Infeksi:
·         Tuberkulosis tulang (menyerang sendi paha sehingga menjadi kaku).
·         Osteomyelitis (radang di dalam dan di sekeliling sumsum tulang karena bakteri).
·         Poliomyelitis (infeksi virus yang mungkin menyebabkan kelumpuhan).
·         Pott’s disease (tuberkulosis sumsum tulang belakang).
·        Still’s disease (radang pada tulang yang menyebabkan kerusakan permanen pada tulang).
·         Tuberkulosis pada lutut atau pada sendi lain.

d.      Kondisi traumatik atau kerusakan traumatik:
·         Amputasi (anggota tubuh dibuangakibat kecelakaan).
·         Kecelakaan akibat luka bakar.
·         Patah tulang.

e.       Tumor:
·         Oxostosis (tumor tulang).
·         Osteosisfibrosa cystica (kista atau kentang yang berisi cairan di dalam tulang).

3.  Pengertian Cerebral Palsy
            Cerebral palsy menurut asal katanya, yaitu cerebral atau cerebrum yang berarti otak, sedangkan palsy berarti kekakuan. Menurut arti kata, cerebral palsy berarti kekakuan yang disebabkan oleh adanya kerusakan yang terletak di dalam otak.
           Dengan demikian cerebral palsy adalah bagian dari tunadaksa, dimana adanya kelainan gerak, sikap, ataupun bentuk tubuh, gangguan koordinasi, dan terkadang disertai gangguan psikologis dan sensoris, yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada masa perkembangan otak.

Ø  Klasifikasi Cerebral Palsy
a.       Menurut  Tipografi cerebral palsy dapat dibedakan sebagai berikut:
·           Monoplegia, yaitu hanya satu anggota gerak yang lumpuh, misalnya kaki kiri, kaki kanan dan kedua tangan normal.
·           Hemiplegia, yaitu lumpuh pada anggota gerak atas atau gerak bawah pada sisi yang sama, misalnya tangan kanan dengan kaki kanan, dan tangan kiri dengan kaki kiri.
·         Paraplegia, apabila kelainan menyerang kedua tungkai atau kakinya.
·           Diplegia, yaitu lumpuh kedua tangan kanan dan kiri.
·           Quadriplegia, yaitu lumpuh pada seluruh anggota geraknya.

b.      Menurut Fisiologi cerebral palsy dapat dibedakan sebagai berikut
·           Spasticity, yaitu kerusakan pada cortex cerebri yang menyebabkan  hiperactive reflex dan stretch reflex. Spasticity dapat dibedakan menjadi:

·         Athetosis, yaitu kerusakan pada basal banglia yang mengakibatkan gerakan-gerakan menjadi tidak terkendali dan tidak terarah.
·         Ataxia, yaitu kerusakan pada cerebellum yang mengakibatkan adanya gangguan pada keseimbangan.
·         Tremor, yaitu kerusakan pada basal ganglia yang berakibat timbulnya getaran-getaran berirama, baik yang bertujuan maupun yang tidak bertujuan.
·         Rigidity, yaitu kerusakan pada basal ganglia yang mengakibatkan kekakuan pada otot-otot.

c.       Kesulitan aktifitas motorik terbagi menjadi 3 bagian:
1.      Hiperaktif, yakni keadaan anak yang mudah tertarik pada setiap rangsangan yang diterima dan kemudian perhatiannya sanagt mudah beralih dari satu objek ke objek yang lain.
2.      Hipoaktif, yakni keadaan anak yang memiliki gerakan lamban dan sangat kurang, tidak dapat serta merta dalam menanggapi rangsangan yang diterima.
3.      Gangguan koordinasi motorik, yakni terjadinya kesulitan sensoris, berupa gangguan persepsi, emosi, bahasa dan bicara.

3.     Penyebab terjadinya ketunadaksaan
a.  Masa sebelum lahir (Pranatal)
       Dapat disebabkan karena faktor keturunan, trauma saat ibu hamil, pendarahan saat kehamilan, penggunaan obat-obatan secara berlebihan, ibu berusia lanjut saat hamil.
b. Masa kelahiran (Natal)
      Dapat disebabkan karena penggunaan alat-alat pembantu saat proses kelahiran (seperti vacum, alat suntik dll) yang kurang efektif serta penggunaan obat bius pada masa kelahiran serta lahir dalam keadaan prematur.
c.   Masa sesudah kelahiran
       Dapat disebabkan karena infeksi, penyakit, tumor, radang otak, keracunan karbon monoksida dan kecelakaan.

B.     Hasil Observasi di SLB YPAC Makassar      
        a.  Perbandingan antara anak tunadaksa fisik dan cerebral palsy

           1. Tunadaksa fisik
           Nama                            : Sabir
           Tempat tanggal lahir    : Makassar, 23 Juni 2002
           Kelas                            : I SMP YPAC Makassar
            Sabir mengalami kecelakaan akibat bermain mesin penggilingan sehingga tangan kanannya terputus sampai bahu pada saat masih duduk di bangku kelas 5 SD. Sabir tamat SD sebelum masuk ke YPAC Makassar.
Berikut kekurangan dan Kelebihan
·         Dapat menulis dan membaca dengan lancar
·         Kemampuan beradaptasi dan sosialisasi cukup baik
·         Pemalu dan suka menyendiri
·         Kurang Percaya diri
2.  Cerebral Palsy Ringan
    Nama                            : Muhammad Rasul Mayhesa Adipati
    Tempat tanggal lahir    : Makassar, 10 Mei 2000
    Kelas                            : III SMP YPAC Makassar
    Alamat                         : Jl. Datuk Ribanding III No. 2
    Nama Orang Tua          : Surianto/Hemilawati
Muhammad Rasul Mayhesa Adipati atau sering dipanggil Rasul adalah siswa dengan tingkat cerebral palsy ringan, sehingga ia masih dapat bergerak secara mandiri dan menolong dirinya sendiri.

Berikut kekurangan dan kelebihannya:
·           Dapat berkomunikasi dengan baik
·           Dapat menulis dan membaca
·           Sering berbicara tanpa dimengerti maksud dan tujuannya
·           Terkadang melamun sendiri.
  
3.         Cerebral palsy sedang

Nama                                    : Adam
Tempat tanggal lahir : Makassar, 27 Maret 2002
Kelas                         : VI SDLB YPAC Makassar

   Adam adalah siswa cerebral palsy sedang yang mengalami kekakuan pada lengan sebelah kiri, setelah mengikuti treatmen fisioterapi, keadaannya berangsur-angsur membaik, kemampuan berbicara sudah membaik, kekauannya sudah dapat dikurangi. Adam baru bisa berjalan setelah usia 3 tahun.

    Berikut kekurangan dan kelebihan
·           Sudah bisa menulis, membaca huruf perhuruf dan kata perkata.
·           Berkomunikasi secara sederhana dengan orang lain
·           Dapat berhitung sederhana penjumlahan dan pengurangan
·           Tidak dapat fokus kepada satu tujuan
·           Lebih suka bermain sendiri.





b.  Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada guru SLB YPAC Makassar
·           Pertanyaan untuk Ibu Hj. Nurmiah S.Pd. selaku wali kelas VI SDLB YPAC Makassar
1.      Bagaimana aspek intelegensi pada peserta didik?
Jawaban :
    Pada aspek intelegensi anak tunadaksa khususnya yang CP memang berbeda dengan anak-anak tunadaksa  pada umumnya, tetapi anak-anak CP disini yah, termasuk Adam itu sudah bisa menulis huruf dan angka walaupun cukup lamban. Adam sudah bisa membaca dengan cara mengeja perkata saja, tidak bisa langsung membaca cepat. Adam juga bisa mengerjakan perhitungan sederhana pengurangan dan penambaha sampai angka ratusan saja.

2.      Apakah tidak ada halangan pada anak saat akan memulai kegiatan belajar?
Jawaban:
    Lumayan sulit untuk memulai pelajaran karena anak-anak sering bermain-main dan tidak fokus pada satu tujuan, sehingga diperlukan rangsangan-rangsangan untuk dapat memfokuskan fikiran anak terhadap pelajaran.
   
3.      Bagaimana sikap sosial (tingkah laku) anak terhadap orang-orang di lingkungan sekolah dan terhadap teman-teman sebayanya?
Jawaban:
      Dalam hal ini, Adam dia  sudah dapat bersosialisasi dengan baik pada semua orang termasuk yang baru dikenalnya, karena dulu dia sangat takut berbicara dan melihat orang, ketika dia melihat orang yang mau bicara dengannya, dia akan lari dan bersembunyi. Alhamdulillah sekarang setelah menjalani fisioterapi keadaannya sudah membaik, sudah tidak takut lagi bergaul dengan orang yang baru dikenalnya serta kepada teman-teman dan gurunya.




4.      Apakah anda sering mendapati siswa anda yang memiliki sensitifitas cukup tinggi, dari segi emosional?
Jawaban:
    Ya, karena Adam sendiri memiliki emosional yang cukup sensitif, seperti ketika ada teman yang mengganggunya maka dia akan melakukan perlawanan yang keras terkadang tidak terkendali, sehingga saya harus melerainya untuk membubarkan perkelahian yang terjadi.

5.      Bagaimana reaksi siswa anda ketika diajak berkomunikasi?
Jawaban:
  Alhamdulillah sekarang Adam sudah bisa mengerti dan berbicara walaupun cukup lamban. Tetapi sudah memiliki peningkatan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

6.      Dalam pengembangan kepribadian peserta didik, apakah ada aspek-aspek yang dinilai untuk kepribadian peserta didik? Seperti apa?
Jawaban:
      Untuk Adam sendiri, dia sudah tahu cara bersopan santun, berkata yang baik dan mengerti nasihat, walaupun ia memahaminya secara sederhana tidak benar-benar dilaksanakan seutuhnya. Tetapi secara umum Adam memiliki kepribadian yang cukup baik.

















2.2     Karakteristik Tunadaksa fisik dan Cerebral Palsy

1.      Perkembangan Tunadaksa

a.       Perkembangan Fisik Anak Tunadaksa
Aspek fisik merupakan potensi yang berkembang dan harus dikembangkan oleh individu. Pada anak tunadaksa, potensi itu tidak utuh karena ada bagian tubuh yang tidak sempurna. Secara umum perkembangan fisik anak tunadaksa dapat dikatakan hampir sama dengan anak normal kecuali bagian-bagian tubuh yang mengalami kerusakan atau bagian-bagian tubuh lain yang terpengaruh oleh kerusakan tersebut.

b.        Perkembangan Kognitif Anak Tunadaksa
Implikasi dalam konteks perkembangan kognitif menurut Gunarsa dalam Efendi (2006:124)  ada empat aspek yang turut mewarnai, yaitu:
a)      Kematangan, kematangan merupakan perkembangan susunan saraf  misalnya mendengar yang diakibatkan kematangan susunan sarat tersebut.
b)      Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungan dan dunianya.
c)      Transmisi sosial, yaitu pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial.
d)       Ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan yang mengatur dalam diri anak.

    Tunadaksa di bagi menjadi dua yaitu tunadaksa ortopedi dan tunadaksa saraf, meski keduanya termasuk dalam tunadaksa yang memiliki gejala kesulitan yang sama, namun jika ditelaah lebih lanjut terdapat perbedaan yang mendasar. Dari segi kognitif misalnya, wujud konkretnya dapat dilihat dari angka indeks kecerdasan (IQ). Kondisi ketunadaksaan pada anak sebagian besar menimbulkan kesulitan belajar dan perkembangan kognitif. Khususnya anak cerebral palsy, selain mengalami kesulitan dalam belajar dan perkembangan fungsi kognitifnya, mereka pun seringkali mengalami kesulitan dalam komunikasi, presepsi, maupun kontrol geraknya, bahkan beberapa penelitian sebagian besar diketahui terbelakang mental (tunagrahita).

2.      Berikut perbedaan karakteristik antara anak Tunadaksa fisik dan Cerebral Palsy:

No
Aspek yang dinilai
Tunadaksa
Cerebral Palsy

1
   Intelegensi
 Anak tunadaksa fisik maupun syaraf memiliki intelegensi baik potensial dan fungsional yang kurang lebih  sama dengan anak normal.
Contoh:
·      Anak polio mempunyai rata-rata intelegensi yang tinggi yaitu IQ 92.
·      Anak yang TBC tulang rata-rata IQ 88.
·       Anak cacat pada pusat syaraf rata-rata IQ 74.
S         Sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek intelegensi anak tunadaksa umumnya sama dengan anak normal.

Tingkat intelegensi (kecerdasan) anak cerebral palsy berentang, kelainan yang mereka derita secara langsung menimbulkan kesulitan belajar dan perkembangan intelegensi. Mereka lebih banyak mengalami kesulitan daripada anak tunadaksa pada umumnya.
     Mereka banyak mengalami kesulitan baik dalam komunikasi, persepsi, maupun kontrol gerak. Hasil pengukuran intelegensi anak cerebral palsy tidak menunjukkan kurva normal, semakin tinggi IQ semakin sedikit jumlahnya.  Berdasarkan penelitan ditemukan bahwa 45% anak CP mengalami keterbelakangan mental, 35% memiliki kemampuan rata-rata. Dan 20% memiliki kemampuan dibawah rata-rata.
2
Bahasa
Umumnya aspek bahasa pada anak tunadaksa kurang lebih sama dengan anak normal, yakni dapat berbicara dengan tegas, lancar dan lugas, namun pada anak tunadaksa jenis polio perkembangan bahasa/bicaranya tidak begitu sama dengan anak normal.
Pada anak cerebral palsy, aspek bahasa pada anak CP tingkat hampir sama dengan orang normal, namun secara umum anak CP mengalami gangguan bicara yang biasanya berupa kesulitan artikulasi, phonasi, dan sistem respirasi.
Adanya gangguan bicara pada anak cerebral palsy mengakibatkan mereka mengalami problem psikologis yang disebabkan kesulitan dalam mengungkapkan pikiran, keinginan, atau kehendaknya.

3
Emosi
·         Untuk anak tunadaksa yang telah  sejak kecil mengalami perkembangan emosi sebagai tunadaksa secara bertahap.
   Dalam hal ini aspek emosi seorang tunadaksa kurang lebih sama dengan orang normal pada umumnya, namun biasanya mereka lebih sensitif terhadap sesuatu yang bersifat menyinggung.

·          Sedangkan anak yang mengalami ketunadaksaan setelah besar mengalaminya sebagai suatu hal yang mendadak, disamping anak yang bersangkutan pernah menjalani kehidupan sebagai orang yang normal sehingga keadaan tunadaksa dianggap sebagai suatu kemunduran dan sulit untuk diterima oleh anak yang bersangkutan.
    Karena awalnya mereka adalah anak normal, sehingga aspek emosinya adalah emosi anak normal, namun dengan keadaan yang dialami, mereka memiliki tingkat emosi yang jauh lebih sensitif dibanding dengan tunadaksa sejak lahir.
Aspek emosi anak cerebral palsy juga kurang lebih sama dengan orang normal, namun terkadang tidak bisa terkontrol dengan baik. Disebabkan sebagian besar penderita cerebral palsy mengalami keterbelakangan mental.
     Mereka biasanya menjadi mudah tersinggung, tidak memberikan perhatian yang lama terhadap sesuatu,  merasa terasing dari keluarga dan temannya.
4
Sosial
·      Sikap
Sikap anak tunadaksa terhadap sosial umumnya sama dengan anak-anak normal, seperti dapat berinteraksi, berkomunikasi, dan pandai bergaul dalam lingkungannya.
·      Perilaku
Anak tunadaksa tidak dapat melakukan berbagai aktivitas dan mobilitas layaknya orang normal, disebabkan adanya hambatan fisik yang dialami.
Anak cerebral palsy khusus untuk yang ringan masih dapat melakukan interaksi dengan orang lain.
     Namun secara umum baik dari aspek sikap maupun perilaku anak cerebral palsy tidak dapat melakukan interaksi sosial dengan baik.
    Hal ini karena sebagian besar penderita cerebral palsy mengalami keterbelakangan mental, gangguan pada sistem motorik, sistem koordinasi, otot, bicara dan kekakuan gerak sadar atau tanpa disadari.
  
5
Bakat
Umumnya memliki bakat bawaan yang kurang lebih sama dengan anak normal umumnya seperti, kemampuan (bakat) dalam seni dan olahraga serta bakat-bakat yang lain yang dapat dikembangkan dengan baik.
Sebagian kecil memiliki bakat bawaan yang dapat dikembangkan sesuai dengan yang dibutuhkan.
     Namun, sebagian besar lainnya tidak dapat mengoptimalkan bakat yang ada dikarenakan hambatan atau kelainan yang diderita.

6
Kepribadian
Umumnya kepribadian anak tunadaksa sama dengan orang normal seperti sikap sopan santun,  saling menghargai satu sama lain, jujur, bersimpati dan berempati dengan sesama makhluk.
    Hanya saja, anak tunadaksa sering merasa dikucilkan, rendah diri dan tidak percaya diri, karena merasa berbeda dari orang lain.
Khusus untuk yang ringan serta sebagian kecil penderita CP lainnya mereka masih dapat mengembangkan kepribadian yang baik kurang lebih sama dengan anak normal.
  Namun secara umum kepribadian anak cerebral palsy berbeda dengan anak normal. Karena mereka memiliki hambatan dalam mengendalikan diri, sistem koordinasi dan sistem motorik.



























BAB III
KESIMPULAN

3.1    Kesimpulan

       Dari pembahasan makalah tersebut diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa tunadaksa adalah ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya disebabkan oleh berkurangnya kemampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsi secara normal akibat luka, penyakit, atau pertumbuhan yang tidak sempurna sehingga untuk kepentingan pembelajarannya perlu layanan secara khusus.
      Sedangkan cerebral palsy adalah gangguan yang terjadi pada otak besar yang mengakibatkan terjadinya hambatan berupa gangguan otot, motorik, sistem koordinasi dan gangguan bicara serta dapat menimbulkan keterbelakangan mental bagi penderitanya. Dengan demikian diperlukanlah pendidikan khusus untuk mewadahi mengembangkan potensi-potensi yang ada dan harus dikembangkan dalam kehidupan sebagai manusia.

3.2     Saran
           Perlakuan orang sekitar yang membedakan terhadap anak tunadaksa menyebabkan anak merasa bahwa dirinya berbeda dengan orang lain. Hal ini, menimbulkan efek tidak langsung akibat ketunadaksaan yang dialami seseorang akan terjadi sifat hargadiri rendah, kurang percaya diri, kurang memiliki inisiatif, atau mematikan kreatifitasnya.
          Oleh karena itu, hendaknya lingkungan masyarakat dapat menerima dan tidak membeda-bedakan antara orang dengan fisik normal dan anak-anak penderita tunadaksa, memberikan perhatian khusus berupa pendidikan yang memadai, pengembangan keterampilan serta perlakuan yang adil tanpa diskriminasi bagi mereka yang mengalami ketunadaksaan.